.: Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang :.

pak mario teguh

profilku

Sabtu, 13 Februari 2010

Pelatihan tehnik cerita bersama kak Wuntat

 
Suasana peserta lagi daftar ulang
 

 Kang deden lagi ngemoderatori pelatihan ..hebat kan STC gitu lho
 Kak wuntat lagi action..melatih guru TK /SD/TPQ
sukses kak
cukup mengesankan pelatihan kemari sabtu...kenapa...ibu2 semua terkesan......wah hebat ya kak wuntad........ayo kang deden bikin lagi pelatihan terus menerus biar bisa dongeng semmua..pinta peserta......sukses

Masih penasaran......baca selengkapnya

Pelatihan Tehnik Cerita

Pelatihan Tehnik Cerita 13-februaruari 2010 bersama kak Wuntat We-Es MEMAHAMI BERBAGAI ASPEK-ASPEK BERCERITA Di Inggris konon pernah diadakan penyebaran angket kepada orang-orang dewasa. Kepada mereka ditanyakan pada saat apa mereka benar-benar merasa bahagia di masa kanak-kanak dulu. Jawaban mereka : “Pada saat orang tua mereka membacakan buku atau Cerita” Apabila pertanyaan yang sama diajukan kepada orang-orang dewasa di Indonesia, saya kira jawabannya tak akan jauh berbeda. Bahkan, khusus mengenai cerita, sampai orang sudah dewasapun masih tetap menggemarinya. Tengoklah obrolan kita juga akan semakin ‘renyah’ bila kita saling bercerita dengan penuh semangat. Cerita memang ‘gurih’. Semua orang tak pandak usia, menyukainya …… Cerita atau dongeng, sih? Lazimnya memang orang lebih banyak mengaitkan dongeng dengan cerita-cerita klasik atau cerita rakyat, atau cerita-cerita fiktif dengan latar cerita yang berbau ‘zaman dahulu kala’. Tidak heran bila ceritanya banyak dimulai dengan kata-kata klasik : pada zaman dahulu kala …., Dulu, disuatu desa…, dan lain-lain. Untuk cerita-cerita rakyat yang sudah sangat terkenal kita biasa mengenalnya sebagai legenda. Sedangkan cerita pengertiannya lebih luas, mencakup segala macam, baik yang ber-setting masa lalu, masa kini, bahkan mungkin masa yang akan datang (cerita futuristik). Cerita juga mencakup kisah-kisah sejarah yang benar-benar pernah terjadi maupun cerita-cerita rekaan, cerita fiktif. Baiklah, agar terasa lebih luas cakupannya, untuk selanjutnya saya akan lebih banyak memakai istilah ‘cerita’ saja. Bercerita adalah metode kominikasi universal yang sangat berpengaruh kepada jiwa manusia. Bahkan dalam teks kitab sucipun banyak berisi banyak sekali cerita-cerita, sebagai diulang-ulang dengan gaya yang berbeda. Tuhan memang mendidik jiwa manusia menuju keimanan dan kebersihan rohani, dengan mengajak manusia berfikir dan merenung, menghayati dan meresapi pesan-pesan moral yang terdapat dalam kitab suci, Karena Dia adalah dzat yang Maha tahu akan jiwa manusia, mengetuk hati manusia antara lain dengan cerita-cerita. Karena ini adalah metode yang sangat efektif untuk mempengaruhi jiwa manusia. Cerita yang berkesan memang selalu menarik perhatian manusia. Mengingat begitu besarnya perhatian Tuhan pada metode bercerita ini, tentu terbersit pertanyaan dihati kita, mengapa metode cerita itu efektif sekali ? jawabannya tidak sulit. Pertama, cerita pada umumnya lebih berkesan daripada nasehat murni, sehingga pada umumnya cerita terekam jauh lebih kuat dalam memori manusia. Cerita-cerita yang kita dengar dimasa kecil masih bisa kita ingat secara utuh selama berpuluh-puluh tahun kemudian. Kedua, melalui cerita manuasi diajar untuk mengambil hikmah tanpa merasa digurui. Memang harus diakui, sering kali hati kita tidak merasa nyaman bila harus dikhotbahi dengan segerobak nasehat yang berkepanjangan. Kita malah merasa dongkol. Apalagi bila nasehat itu nadanya cenderung merendahkan harga diri kita.
Uraian diatas menggambarkan bahwa cerita sangat erat kaitannya dengan dunia pendidikan. Konsekwensinya, setiap pendidik yang peduli pada pembentukan kepribadian yang luhur, harus ‘merasa ikut diperintah’ oleh Tuhan untuk banyak-banyak bercerita, sebagaimana Tuhan memerintahkannya kepada para Rasul . Terlebih-lebih bagi para Ibu, yang memang memiliki posisi strategis sebagai kaum pendidik. Saya kira, secara demikian saya berani mengharuskan kepada setiap Ibu untuk belajar bercerita. Penguasaan terhadap keterampilan ini sangat urgen bagi Ibu, terutama dalam menjalankan peran pokoknya sebagai pendidik generasi. A. Fungsi dan manfaat Cerita Kedudukan strategis cerita dalam dunia pendidikan, termasuk menurut sudut pandang moralitas, telah tergambar dengan amat jelas diatas. Cerita memang banyak sekali manfaatnya bagi anak-anak. Paling tidak cerita mempunyai beberapa fungsi penting antara lain : 1. Sebagai sarana kontak batin antara pendidik (termasuk orang tuanya) dengan anak didik. 2. Sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan moral atau nilai-nilai ajaran tertentu. 3. Sebagai metode untuk memberikan bekal kepada anak didik agar mampu melakukan proses identifikasi diri maupun identifikasi perbuatan (akhlaq). 4. Sebagai sarana pendidikan emosi (perasaan) anak didik 5. Sebagai sarana pendidikan fantasi/imajinasi/kreativitas (daya cipta) anak didik. 6. Sebagai sarana pendidikan bahasa anak didik 7. Sebagai sarana pendidikan daya pikir an anak didik 8. Sebagai sarana untuk memperkaya pengalaman batin dan khasanah pengetahuan anak didik. 9. Sebagai salah satu metode untuk memberikan terapi pada anak-anak yang mengalami masalah psikologis. 10. Sebagai sarana hiburan dan pencegah kejenuhan. Melalui cerita-cerita yang baik, sesungguhnya anak-anak tidak hanya memperoleh kesenangan atau hiburan saja, tetapi mendapatkan pendidikan yang jauh lebih luas. Bahkan tidak berlebihan bila dikatakan bahwa cerita ternyata menyentuh berbagai aspek pembentukan kepribadian anak-anak. Cerita secara faktual erat sekali hubungannya dengan pembentukkan karakter, bukan saja karakter manusia secara individual, tetapi juga karakter manusia dalam sebuah bangsa. Tidak heran bila banyak pakar kebudayaan yang menyatakan bahwa nilai jati diri, karakter dan kepribadian sebuah bangsa, dapat dilihat dari cerita-cerita rakyat yang hidup dibangsa itu. Kalau begitu, jelas bercerita bukanlah sesuatu yang berakibat sederhana. Cerita berpengaruh amat besar dalam jangka panjang, sampai-sampai dikatakan menjadi faktor dominan bagi bangunan karakter manusia disuatu bangsa. B. Jenis-jenis Cerita Sebelum seseorang bercerita, ia harus memahami terlebih dahulu jenis cerita apa yang hendak disampaikannya. Memang, cerita banyak sekali macamnya. Tentu saja masing-masing jenis cerita mempunyai karakteristik yang berbeda. Oleh karena itu, agar kita dapat bercerita dengan tepat, kita terlebih dahulu harus menentukan terlebih dahulu jenis ceritanya. Pemilihan jenis cerita antara lain ditentukan oleh : 1. Tingkat usia pendengar 2. Jumlah pendengar 3. Tingkat heterogenitas (keragaman) pendengar 4. Tujuan penyampaian materi 5. Suasana acara 6. Suasana (situasi dan kondisi) pendengar dan sebagainya. Jenis-jenis cerita dapat dibedakan dari berbagai sudut pandang. Dari sudut pandang itulah kita dapat memilah-milah jenis ceritanya. Dibawah ini akan diuraikan sebuah bagan sederhana mengenai berbagai sudut pandang dan jenis-jenis ceritanya : 1. Berdasarkan Pelakunya a. Fabel (cerita tentang dunia binatang) dan dunia tumbuhan b. Dunia benda-benda mati c. Dunia manusia d. Campuran/kombinasi 2. Berdasarkan Kejadiannya a. Cerita sejarah (tarikh) b. Cerita fiksi (rekaan) c. Cerita fiksi sejarah 3. Berdasarkan Sifat Waktu Penyajiannya a. Cerita bersambung b. Cerita serial c. Cerita lepas d. Cerita sisipan e. Cerita ilustrasi 4. Berdasarkan Sifat dan Jumlah Pendengarnya a. Cerita Privat 1). Cerita pengantar tidur 2). Cerita lingkaran pribadi (individual atau kelompok sangat kecil) b. Cerita Kelas 1). Kelas kecil (s.d. ± 20 anak) 2). Kelas besar (s.d. ± 20 - 40 anak) c. Cerita untuk forum terbuka 5. Berdasarkan Teknik Penyampaiannya a. Cerita langsung/lepas naskah (direct - story) b. Membacakan cerita (story-reading) 6. Berdasarkan Pemanfaatan Peraga a. Bercerita dengan alat peraga b. Bercerita tanpa alat peraga Sekali lagi, pemilihan jenis cerita diatas sangat berpengaruh pada teknik penyajiannya. Oleh sebab itu, bila penyajian cerita kita ingin mencapai sasarannya, kita sejak semula harus mempertimbangkannya secara seksama. Sebab, masing-masing jenis cerita membutuhkan teknik, gaya dan pendekatan yang berbeda. Selain itu, pemahaman yang mendalam akan jenis dan karakter pendengar (audience) juga sangat dibutuhkan. C. Faktor-faktor Pokok Cerita Untuk mencapai keberhasilan dalam bercerita ada dua faktor pokok yang harus diperhatikan oleh setiap pendidik yang akan bercerita, yaitu : 1. Naskah/skenario atau setidaknya sinopsis (kerangka) 2. Teknik penyajian Untuk lebih jelasnya kedua faktor pokok diatas dapat diuraikan secara lebih lengkap sebagai berikut : 1. Menyiapkan naskah cerita a. Dari sumber cerita yang telah ada Seorang pendidik yang akan bercerita pasti harus menentukan terlebih dahulu gambaran jalan ceritanya. Ia bisa saja mengambil dari buku-buku, majalah atau komik-komik tertentu. Bila langkah ini yang diambil maka dikatakan bahwa pendidik itu menggunakan sumber cerita yang sudah ada. Tentu saja cerita yang dipilih harus sudah dipertimbangkan masak-masak. Apakah cerita itu tepat ? Apakah cerita itu mempunyai bobot dan greget yang kuat ? Apakah cerita itu memberikan ruang gerak yang luas kepada pencerita untuk mengembangkan teknik penyajiannya ? Apakah cerita itu alurnya pas, tidak terlalu singkat dan tidak terlalu panjang ?. Boleh jadi ada naskah cerita yang perlu diperkaya adegannya, perlu diperdalam nilai konfliknya, atau perlu dimodifikasi/diubah ending-nya, dan sebagainya. Nah, bila sudah yakin benar atas pilihan ceritanya, maka seorang pencerita harus melanjutkannya dengan langkah-langkah sebagai berikut : (agar lebih lengkap langkah pertama disebutkan kembali) 1). Memilih naskah cerita yang tepat 2). Mengubah naskah itu, dari naskah dengan bahasa tulis menjadi naskah yang siap dibacakan secara lisan (naskah dengan bahasa lisan). Ingatlah, naskah itu tidak hanya harus bagus untuk dibaca, tetapi harus menarik untuk dibacakan. 3). Membaca naskah baru itu berulang-ulang sehingga pencerita yakin bahwa dirinya benar-benar menguasai alur/plot cerita (Nama-nama tokohnya juga jangan sampai lupa). 4). Menyiapkan bumbu-bumbu cerita, bila perlu tertulis dalam naskah Untuk jenis cerita langsung (direct story) seorang pencerita yang berpengalamanpun biasanya melakukan prosedur yang sama, meskipun prosedur (2) dan (4) tidak dilakukan secara khusus. ia cukup melakukannya dialam imajinasinya sendiri. Tetapi untuk jenis cerita dengan membaca naskah (story reading) prosedur diatas mutlak diperlukan, terutama bagi pemula. Prosedur. (5) tetap penting untuk pembacaan cerita (story reading) sebab bila pembaca cerita telah setengah hafal, maka ia akan terhindar dari pembacaan cerita yang tersendat-sendat, salah baca, salah interpretasi atas sifat adegan ternyata kurang mendapat respon positif dan pendengarannya, karena pembaca cerita kurang menguasai segi-segi detai dari penyajian cerita tersebut. Untuk menghindari kesalahan interpretasi, sebaliknya naskah cerita diberi tanda-tanda khusus (misalnya digaris bawahi, distrabilo boss, dan sebagainya) atau penulisan naskahnya dirancang mirip naskah drama. b. Mengarang Cerita Sendiri Bila seorang pencerita berkehendak untuk membuat naskah sendiri, maka yang terpenting ia harus menentukan terlebih dahulu alur atau plot cerita. Bisa dalam bentuk karangan/bagan alur/plot cerita atau sinopsis, bisa pula tertulis secara lengkap/detail. Bila ditulis secara lengkap, sebagaimana tergambar diatas, harus ditulis dengan gaya bahasa lisan. Selanjutnya prosedurnya relatif sama dengan prosedur diatas. Yang penting alur/plot cerita harus benar dikuasai. 2. Teknis Penyajian Bila faktor naskah ‘beres’, maka faktor kedua yang akan menentukan berhasil tidaknya seseorang dalam bercerita adalah faktor teknis penyajiannya. Seorang pencerita perlu mengasah keterampilannya dalam bercerita, baik dalam olah vokal, olah gerak, ekspresi dan sebagainya. Seorang pencerita harus pandai-pandai mengembangkan berbagai unsur penyajian cerita sehingga terjadi harmoni yang tepat. Secara garis besar unsur-unsur penyajian cerita yang harus dikombinasikan secara proporsional adalah sebagai berikut : (1) Narasi (2) Dialog (3) Ekspresi (terutama mimik muka) (4) Visualisasi gerak/Peragaan (acting) (5) Ilustrasi suara, baik suara lazim maupun suara tak lazim (6) Media/alat peraga (bila ada) (7) Teknis ilustrasi lainnya, misalnya lagu, permainan, musik, dan sebagainya. Untuk mampu menguasai aspek-aspek keterampilan teknis dari unsur penyajian cerita diatas tentu saja membutuhkan persiapan yang baik. Selain itu, keluasan dalam bercerita sehingga berbagai unsur diatas dapat tersaji secara padu hanya dapat dikuasai dengan pengalaman dan latihan-latihan yang tekun. III KEMAMPUAN UMUM A. Totalitas Apabila kita ingin bercerita dengan baik dan menarik, maka kita membutuhkan totalitas dalam penyampaiannya, karena totalitas merupakan karakter sukses suatu penampilan. Jika kita tampil bercerita tetapi ragu-ragu, malu-malu atau setengah hati, maka akan berlakulah hukum Stimulasi dan Respon, artinya stimulasi pencerita sangat menentukan respon audiens, sebagai contoh jika kita semangat maka respon anak-anak juga akan semangat, namun jika kita kurang antusias maka respon anak-anak dapat dipastikan juga kurang antusias. Memang totalitas ini sangat dipengaruhi modal dasar kita, yaitu rasa percaya diri, sedangkan rasa percaya diri ini sangat dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman batin seseorang semasa hidupnya, dan secara khusus ditunjang jam terbang dalam bercerita. Minder merupakan aral totalitas penyampain cerita, sebgaimana diatas ia sangat dipengaruhi pengetahuan dan pengalaman pematangan pribadi, ditambah jam terbang dalam bercerita. Kadang kala kondisi mental seseorang yang sedang dialami, juga menjadi sebab menurunnya kualitas mental seseorang, sehingga tidak dapat tampil secara total, sebagai contoh kondisi stress yang dirasakan seseorang akan menurunkan mood dalam penampilannya. Biasanya hambatan terbesar memang hambatan mental seperti ini, bisa jadi seseorang telah memiliki materi cerita yang baik bahkan unggul, namun cerita tersebut menjadi tidak menarik dinikmati karena penyajian yang tidak menarik, ada baiknya kita selalu melakukan olah batin kita sehingga bukan mood yang menggendalikan kita, tetapi kitalah yang mengendalikan mood tersebut. Bagaimanakah cara mengantisipasi kegugupan akibat tidak percaya diri tersebut akan kami bahas pada bab tersendiri. B. Komunikasi dan bahasa Pada prinsipnya menuturkan cerita yang baik adalah tersampaikannya tujuan dalam bercerita, atau dengan kata lain pesan dari cerita tersebut dapat diterima dengan baik oleh anak-anak. Maka ketrampilan dalm berkomunikasi harus dikuasai oleh sang pencerita, sekaligus ia dapat mengatasi aral komunikasi yang mengakibatkan gagalnya transformasi nilai dan pengetahuan yang merupakan pesan dalam cerita. Ketrampilan yang dimaksud dalam berkomunikasi adalah 1. Ketrampilan membangun kesan pertama: dengan apa anda akan membangun kesan dan harapan terhadap sajian cerita yang akan anda sampaikan? Apakah melalui ucapan-ucapan yang apresiatif, antusiasme, cara berjalan, keramahan, kelucuan, kostum, kefasihan, atau kejutan yang dapat secara langsung memukau para pendengar? Jangan sampai justru kita melakukan hal-hal yang membuat audiens kurang simpatik, seperti pernyataan tidak siap karena mendadak, masih dalam tahap belajar, penampilan yang kurang pantas, atau mengulang-ulang penyampaian salam dikarenakan kurangnya respon kurang semangat. 2. Membangun Kontak visual: Banyak orang bilang bahwa mata adalah jendela hati, maka apabila kita hendak menguasai hati seseorang, sudah semestinya kita memanfaatkan kontak mata dengan orang tersebut. Secara etika memandang mata secara langsung seringkali terkesan kurang sopan apabila dilakukan dengan sembrono. Maka perlu teknik tersendiri dalam melakukan kontak mata tersebut. Dalam berbagai teori rethorika, dikenal istilah view of bussines, dimana kontak visual kita adalah pada bagian tengah dahi para audiens. Seandainya kita memandang secara langsung, adakalanya mental kita menjadi terganggu, hal ini diakibatkan adanya beberapa tipologi audiens dalam kontak visual dengan kita, yaitu tipe respect/hormat, tipe tidak respect, dan tipe reckless/sembrono. 3. Tipe respect adalah mereka yang antusias, hormat dan tulus dalam mengikuti cerita kita, dari sorot matanya tampak bersahabat, cerah, dan tidak menunjukkan sikap bermusuhan kepada kita, sebaliknya tipe tidak respect menunjukkan sikap apatis bahkan memusuhi, sorot matanya tajam dan menunjukkan sikap tidak menghormati kita. Sedangkan tipe reckless menunjukkan sikap genit, menggoda dan seringkali mencari-cari perhatian lebih dari kita. 4. Membangun kontak batin: Bercerita bukan kegiatan instruksional yang kering dengan komunikasi batiniah antara pencerita dengan audiens, artinya kegiatan ini bukan hubungan antara lisan dengan telinga saja, namun lebih dari itu terdapat motivasi yang menggerakkan sang pencerita untuk menuturkan cerita tersebut agar para audiensnya memahami dan kemudian mau berubah. Karenanya, antara hati dan lisan pencerita harus diselaraskan, bahkan kekuatan ruhani merupakan basis komunikasi tersebut. Cerita tidak baik sekedar menarik atau waton ndagel, namun cerita tersebut adalah sesuatu yang benar-benar menggerakkan hati. Dalam bahasa musikal terdapat istilah entrainment yang dapat diartikan arah gerak atau arah sentuh; apabila ingin merubah pikiran maka dilakukan dengan pikiran (pendekatan kognitif), apabila ingin menggerakkan/menyentuh hati mak haruis dengan hati pula (pendekatan afektif), dan apabila ingin merubah kebiasaan maka dengan pembiasaan pula.(pendekatan habituasi). Apabila spiritualitas dan hati yang menggerakan, mak vibrasinya akan sampai ke ruhani dan hati pendengarnya. 5. Bahasa yang mudah dimengerti: Bahasa yang digunakan dalam bercerita sebaiknya adalah bahasa sederhana dan dapat dimengerti audiensnya (efektif). Apabila kita bercerita dihadapan anak-anak maka kita berbicara yang sesuai dengan bahasa anak-anak dan dari sudut pandang anak. Anak-anak dalam perkembangan daya pikirnya masih sangat didominasi dengan kemampuan berpikir secara kongkrit. Sehingga mereka kurang mampu menangkap makna dari hal-hal yang abstrak, sebagi contoh istilah “Anak yang sholeh” adalah abstrak , lebih baik diganti dengan anak yang rajin sholat, senang mengaji, taat pada ayah ibu serta sering juara. Demikian pula dengan istilah-istilah seperti munafik diganti suka bohong, kafir diganti tidak patuh atau tidak beragama Islam, ghaib diganti tidak terlihat mata, baik hati diganti suka menolong, berduka cita diganti dengan sedih dan menangis, bahagia diganti senang sekali, dan sebagainya. Hindari pula istilah populer yang membuat anak-anak melongo karena ketidak tahuannya yang menjadikan mereka kebingungan seperti istilah modern, globalisasi, riset, relevan, signifikan, statement, pembangunan dan sebagainya. 6. Keterlibatan anak dalam cerita: Suasana hangat dalam bercerita dapat menjadi hangat, apabila kita mampu melibatkan anak dalam cerita tersebut, hal ini dapat dilakukan dengan meminjam nama beberapa anak untuk menjadi nama tokoh-tokoh yang baik dalam cerita tersebut. Namun jangan sekali-kali peminjaman nama tersebut untuk digunakan pada tokoh dalam cerita, yang memiliki personifikasi buruk seperti penjahat, hantu dan binatang buas misalnya. Melakukan jeda dalam cerita juga dilakukan dalam bercerita, hal ini dilakukan apabila durasi cerita ternyata cukup panjang, sehingga membutuhkan stimulasi tertentu yang dapat mempertahankan rentang konsentrasi dan perhatian mereka, sehingga tetap konstan. Hal ini dapat dilakukan dengan bertanya jawab, doa bersama, aktivitas fisik berupa menirukan adegan tertentu dalam cerita tersebut, seperti burung terbang, raungan harimau, teriakan, bergulingan, menembak dan sebagainya. C. Mimik / Ekspresi Ekspresi adalah memunculkan susana dan respon emosional melalui kata-kata atau wajah. Cerita akan semakin hidup dan menghanyutkan emosi pendengarnya apabila sang pencerita dapat mengeksplorasi mimik muka dan kata-kata yang memiliki muatan emosional yang kuat, ekspresiasi ini merupakan suatu bentuk penghayatan dalam penceritaan, yang pada gilirannya dapat membantu anak-anak untuk menghayati cerita pula. Seorang pencerita sangat dianjurkan untuk selalu melatih ekspresi senang, bahagia, sedih, murung, puas, histeris, terbahak-bahak dan berbagai bentuk ekspresiasi lainnya. Karena melalui ekspresiasi inilah pematangan kecerdasan emosi dan spiritualnya. D. Olah Gerak Diantara karakter kehidupan anak-anak adalah motorik atau banyak bergerak, dengan pengertian mereka tampak lebih dinamis dalam mengeksplorasi otot mereka dibandingkan orang yang lebih dewasa. Maka aksiomanya mereka menyukai pencerita yang atraktif, karena gerak atraktif tersebut merupakan unsur entertaint yang penting dalam penyajian cerita. Dalam langgam/gaya cerita dikenal ada bebarapa teknik gerak kecil dan gerak besar. Gerakan kecil meliputi keluwesan cara berdiri, gerak tangan, kepala dan tubuh pada saat berdiri (standing) di suatu area panggung (stage), sedangkan gerak besar meliputi eksplorasi zona gerak di panggung dan menirukan adegan yang kompleks seperti cara berjalan, adegan pertarungan silat, adegan perang, terjatuh, tidur atau berlari-lari, ketakutan bahkan eksplorasi zona pendengar. Para pencerita yang mampu mengeksplorasi gerak ini biasanya dapat lebih menarik perhatian anak-anak, semakin piawai melakukannya maka akan semakin menarik pula cerita tersebut, namun kita tetap harus mengingat bahwa dalam bercerita komposisi pendekatan auditif melalui kata-kata lebih dominan dan prioritas dibandingkan pendekatan visual dalam bercerita, agar bercerita tetap merupakan komunikasi dengan bahasa tutur, bukan pentas teather, tarian, monolog atau phanthomin. Apalagi pula bercerita identik dengan upaya mendidikan watak kepribadian, maka boleh saja kita mengeksploarasi gerak, namun tidak sampai mengurbankan citra diri (gezagt) kita sebagai pendidik, dikarenakan ketidak mampuan mengontrol diri dalam melakukan gerakan-gerakan atraktif dalam bercerita. E. Olah Vokal Vokal dapat dikatakan baik apabila memiliki kualiats-kualitas berikut ini: 1. Power / tenaga Power adalah kekuatan suara yang mampu didengar dan menggerakkan anak-anak, power ini berasal dari suatu teknik mengeluarkan vokal secara lepas. Melatih suara agar memiliki kualitas ini dapatdilakukan dengan mengucapkan huruf-huruf vokal (A,I,U,E,O) dengan variasinya secara lepas, dapat juga kombinasikan dengan melatih panjang nafas kita dengan mengucapkan huruf vokal tersebut dengan cara dipanjangkan. 2. Volume / Besar-kecil Besar kecil suara merupakan kualitas vokal yang penting, karena volume merupakan modal kualitas irama/rhythm suara. Variasi dan kombinasi besar kecil atau lirih keras suara akan membuat penuturan cerita menjadi lebih nikmat. 3. Resonance / Gema Gema merupakan salah satu kualitas vokal yang cukup menentukan perasaan fun, fresh, dan enjoy dalam mendengarkan cerita. Karena gema di akhir kata-kata ini menimbulkan suasana bersahabat. Karena suara tanpa gema juga terkesang angkuh dan kering. Namun kita perlu untuk mengingat pula, apabila kita menggunakan resonance dalam berbicara tidak boleh terlalu dipanjangkan, karena justru menjadi tidak nyaman didengarkan, dan kita justru terkesan menjadi lebih kekanak-kanak dibandingkan anak-anak. Jadi resonance suara ini kita atur secara proporsional. 4. Rhythm / Irama Irama yang monoton akan menjadikan cerita kita berakhir su’ul khatimah , karena anak-anak cenderung bosan dan kemudian tidak memperhatikan cerita yang kita sampaikan. Dalam langgam cerita, sebenarnya tidak terikat dengan aturan tinggi, sedang atau rendah suara. Ada baiknya kita membiasakan memvariasikan ketinggian atau rendah suara tersebut secara acak, sehingga irama penuturan menjadi menarik dan penuh kejutan.karena kejutan demi kejutan tersebut akan menimbulkan membuat anak-anak tetap terjaga tingkat perhatiannya kepada kita. 5. Pitch / ketegangan Terdapat berbagi tipe pita suara, ada yang tebal, tipis dan selainnya. Biasanya ketegangan pita suara ini sangat dipengaruhi latihan pernafasan kita. Maka para pencerita sangat dianjurkan untuk menyadari strategi yang tepat berdasarkan karakter pita suaranya, untuk kemudian melakukan kontrol ketegangan pita suara agar tidak fals, slip atau pecah. 6. Inflection / Perubahan warna Suara yang dapat berubah menjadi berbagai warna dan karakter, merupakan salah satu kualitas yang menjadi impian para pencerita, sehingga latihan-latihan vokal lebih diprioritas untuk menguasai kualitas ini. Menurut para pakar bercerita, kemampuan infleksi ini sebenarnya merupakan anugrah tersendiri dari yang maha kuasa, namun kualitas suara yang satu ini dapat dipelajari siapa saja, karena pada dasarnya secara anatomis, umumnya tidak terdapat perbedaan struktur mulut, lidah, gigi dan organ tubuh yang secar kompleks menimbulkan suara manusia. Paling tidak seorang pencerita memiliki tiga warna suara yang berbeda, yaitu suara kecil, besar dan suara asli. Karena unsur dialog dalam cerita dapat divariasikan dari ketiga suara tersebut. Syukur-syukur dapat meningkatkan kemampuan olah suara ini dengan menirukan suara-suara binatang, kendaraan, alat-alat elektronik, suara tokoh kartun, bahkan dapat mnemukan suara-suara unik yang dapat memperkaya cerita yang disampaikannya. Namun apabila terdapat keterbatasan dalam merubah warna suara ini, jangalah berkecil hati, karena tanpa harus memiliki lisan yang Polyphonic sekalipun, cerita selalu ingin dirindukan anak-anak, percayalah. 7. Speed / kecepatan Kita perlu lebih bijaksana dalam mengatur kecepatan dalm berbicara, artinya kita perlu untuk proporsional. Berbicara terlalu cepat akan menjadikan anak-anak sulit memahami arti dan maksud dari kata-kata tersebut, sedangkan terlalu lambat menjadikan anak-anak bosan. 8. Cluster / tipe-jenis Cluster dapat diartikan pengelompokan suara berdasarkan tipe atau jenis suara, dikalangan pria dikenal tipe bass, bariton dan tenor. Sedangkan pada wanita dikenal tipe sopran, mezosopran dan alto. Setiap orang tentunya memiliki suara yang termasuk dalam kategori tersebut, tentu saja hal ini merupakan modal personal yang dapat dioptimalkan secara khas. 9. Clarity-Microphonic / Jernih-merdu Suara yang jelas dan jernih suara nyaman didengarkan, kemudian pesan yang disampaikan lebih mudah dimengerti pendengarnya. Biasanya kejernihan dan kemerduan suara ini merupakan hasil latihan terus menerus untuk memperhalus suara dan merawat suara dari hal-hal yang menggangu kualitas jernih dan merdu suara ini. Disarankan oleh para ahli vokal menjaga pola konsumsi makanan kita, dari berbagai makanan yang banyak mengandung minyak, terlalu pedas dan banyakl mengandung getah. Demikian pila dengan menjaga kondisi fisik dan psikis dari kelelahan fisik maupun mental. III ASPEK KREATIF BERCERITA Ibarat seorang koki, cita rasa makan tidak saja ditentukan oleh kuallitas harga dan bahan makanan, boleh saja hal itu menentukan, namun yang pasti ada faktor lain yang memperngaruhinya, diantaranya adalah formula dan kemasan yang apik dan artistik, kedua hal inilah yang akan sangat mempengaruhi selera doyan makan konsumennya. Demikian pula dengan cerita, kepiawaian penutur cerita sangat mempengaruhi tingkat doyan dongeng bahkan kerakusan menikmati cerita. Maka dalam tulisan ini tiada salahnya kami menyajikan beberapa aspek kraativitas dalam bercerita, yang kami jumput dari pengalaman teknis bertutur cerita, diantaranya adalah: A. Teknik Menceritakan Sejarah B. Teknik Menceritakan Fiksi/rekaan C. Teknik mengatasi demam panggung D. Teknik menyatukan perhatian E. Teknik membuka cerita F. Teknik menata alur G. Teknik mencipta konflik. H. Teknik menutup cerita A. Teknik menceritakan sejarah 1. Kuasailah alur cerita, adegan, dialog dari sumber bacaanb yang terpercaya. Bila perlu bacalah berulang-ulang hingga benar-benar dikuasai. Ingatlah, penguasaan terhadap pakem cerita amat esensial pada jenis cerita ini, bila tidak terkuasai kita akan terjebak kepada improvisasi yang merusak. 2. Ceritakan kisah sejarah apa adanya, tanpa bumbu-bumbu cerita yang tidak relevan, jangan bumbui kisah perjuangan yamh agung dengan humor, apabila memang dirasa tidak tepat. 3. Usaha untuk membuat cerita lebih menarik biasanya difokuskan pada unsur suspence, ekspresi, penekanan pada adegan-adegan heroik dan dialog yang kuat. 4. Bagian-bagian cerita yang belum saatnya disampaikan pada usia anak tertentu hendaknya disunting secara bijaksana, tanpa mengganggu keutuhan sejarah.usahakanlah agar cerita yang terlalu bercabang-cabang dapat terangkai dalam satu alur yang padu. 5. Sampaikanlah cerita sejarah pada sekelompok anak yang memang belum pernah mendengarkannya, Bila ada anak yang tahu jalan ceritanya, ingatkan sejak awal agar tidak mengganggu teman-temannya dengan dengan memberi komentar dan tebakan-tebakan, Bila tidak tahan untuk memberi komentar ditengah-tengah cerita, ingatkanlah kembali secara bijaksana. Tegurlah bahwa apa yang diucapkannya itu mengganggu kita, namun tetaplah tersenyum ramah. 6. Ajaklah anak didik kita mengambil hikmah dari kisah itu, berikan motivasi untuk meneladani tokoh dan perbuatan yang mulia, ajaklah mereka menjauhi perbuatan yang tercela. Sebaiknya nasehat yang diselipokan ditengah cerita tidak terlalu panjang. Hall ini akan terasa menjengkelkan bagi anak-anak, hikmah sebaiknya disampaikan pada akhir cerita. B. Teknik Menceritakan Fiksi 1. Satukan perhatian anak 2. Friendship 3. Total : Antusias/bersungguh sungguh 4. Tentukan tujuan dan alur cerita 5. Pilihlah setting awalnya 6. Tentukan tokoh-tokohnya : Protagonis, Antagonis, Tritagonis, Pembantu 7. Munculkan konflik antar tokoh diatas 8. Detailkan cerita/terperinci : Personifikasi tokoh-tokohnya, adegan-adegannya, dialog-dialognya, 9. Dramatisasi/menyangatkan 10. Ilustrasi suara : Lazim, tak lazim 11. Suspence dan Humor 12. Perhatikan situasi dan kondisi 13. Happy ending C. Kiat-kiat mengatasi demam panggung Paling tidak terdapat 10 aktivitas mental maupun fisik yang dapat mengatasi taua paling tidak mengurangi gejala nervous/sindrom demam panggung, tips tersebut adalah: 1. Berlatih sebelum tampil: Janganlah menyepelekan berlatih sebelum bercerita, karena bertutur cerita hakekatnya merupakan sebuah skill tersendiri, apabila semakin banyak berlatih maka akan semakin piawai kita melakukannya. 2. Estimasikan hal-hal positif: sebelum tampil, munculkan citra/gambaran yang indah ketika tampil nanti, hal ini akan memupuk jiwa optimis kita, namun apabila kita justry membayangkan hal-hal negatif penampilan cerita yang akan kita lakukan, maka menimbulkan perasaan pesimis , yang pada gilirannya semakin menghambat rasa percaya diri kita. 3. Berprinsip pada Relaksasi; mengendurkan otot kaku yang diakibatkan keadaan emosi yaitu perasaan gugup perlu dilakukan, dengan melakukan stracting/peregangan otot secara sederhana, dapat juga dengan mendengarkan musik yang mmenimbulkan efek relaks. 4. Bernafaslah dalam-dalam untuk menanggulangi keringat dingin. 5. Lecut percaya diri dengan Sugesti: katakan dalam hati kita “Yakin...Pasti bisa...gampang...enteng...pasti berhasil...sukses dam sebagainya akan menjadi suplemen percaya diri yang sangat besar dampaknya. 6. Siapkan “Tim sukses”; seringkali penampilam kita akan terbantu secara psikis apabila ada beberapa teman yang membantu mengendalikan audiens dan menciptakan suasana komunikatif 7. Siapkan alat bantu; bagi sebagian pencerita alat bantu dapat membantu rasa percaya diri, hal ini dikerenakan alat-alat tersebut dapat membantu memusatkan perhatian, tidak hanya kepada pencerita, namun seringkali focus berpindah kepada alat bantu seperti boneka, gambar, wayang, kain dan lain sebagainya. 8. Singkirkan Penghalang mentalmu !; tidak menjadi masalah seandainya pihak-pihak yang membuat kita menjadi grogi, secara asertif kita ,imta untuk menyingkir terlebih dahulu, karena banyak kasus kegagalan dalam bercerita diakibatkan hal ini. 9. Aspirasi sukses, yakin tanpa halangan! Sudah seharusnya kita menyadari, saat kita bercerita tak adasatu pihakpun yang menghendaki kita gagal dalam bercerita, baik anak-anak, para guru, sesama kader, penonton, wali murid semuanya menginginkan kita sukses dalam bercerita, jadi tak ada lasan kita grogi, justru mereka sangat membantu secara batin serta maklum dengan keterbatasan dan proses yang kita jalani. 10. Berdoa; apabila kita meyakini bila mengajar itu mulia, mendidik itu ibadah sertya bercerita itu mencerahkan jiwa, maka sudah pada tempatnya kita berdoa kepada Tuhan pendidik Hati manusia, agar kita dapat berhasil dalam menyajikan cerita. B. Teknik Menyatukan Perhatian Bercerita tentu tidak dapat kita sampaikan dengan baik, apabila kondisi atau suasana kelasnya tidak kondusif, maka perlu ada upaya dari kita Untuk membuat anudiens terpusat kepada kita, nah…diantara cara-cara yang telah teruji ampuh Untuk menciptakan focus tersebut adalah: 1. Aneka Kreasi Tepuk tangan: anda pernah mendengar tepuk anak sholeh, tepuk istiqamah, tepuk angin mendayu dan sebagainya? ternyata terdapat berbagai macam kreasi permainan tepuk yang teruji efektif untuk menenangkan dan memusatkan perhatian anak sebelum , saat atau sesudah bercerita. 2. Simulasi kunci mulut: permainan “pura-pura” ini sangat baik untuk menenangkan anak ketika akan memulai cerita 3. Ikrar bersama: rupa-rupa ikrar atau janji sebelum mendengarkan cerita, akan menjadi pengikat perhatian audiens dan menciptakan suasana kondusif dalam mengelola kelas. 4. Lomba : Duduk tenang, menjadi patung 5. Yel-yel : Yel-yel penenang seperti; “Ola la la, ole le le, ayo duduk tenang, suara di simpan “ (anak-anak menirukan) terbukti efektif menenangkan anak. 6. Mendekati anak yang gelisah: saat bercerita sebaiknya kita memperluas panggung cerita kita, dengan berjalan mendekat dan berpindah, hal ini akan berdampak perasaan “dekat” 7. Panthomin/Gerakan/tindakan: Lakukanlah suatau gerakan yang merupakan teka-teki, kemudian audiens diminta menebak gerakan apa., teknik ini sangat dapat lebih luas dikembangkan sebagi penarik perhatian. 8. Aba-aba/instruksi untuk tertib dan tenang serta tidak menggangu. 9. Kesepakatan/ tata tertib cerita; buatlah aturan-aturan dalam mendengarkan cerita, intinya adalah mereka merasa mengikatkan diri untuk taat, tertib, tekun dan tuntas dalam mendengarkan cerita dari guru. 10. Siapkanlah Hadiah bagi pendengar cerita yang baik, serta sampailkan adanya hukuman bagi para penggagu ketika cerita, punishment dan reward ini sudah barang tentu harus disesuaikan dengan audiens. C. Teknik Membuka Cerita “Kesan pertama begitu menggoda selanjutnya ….” Satu kalimat yang mengingatkan kita pada iklan komersial salah satu produk di televisi, hal ini mengingatkan kita betapa pentingnya menciptakan kesan pertam atau membuka suatu cerita dengan teknik-teknik yang menggugah. Karena membuka cerita merupakan saat yang sangat menentukan maka membutuhkan teknik yang memiliki unsur sugesti dan entertaint yang kuat pengaruhnya, diantaranya dengan 10 tips membuka cerita berikut ini… 1. Pernyataan kesiapan : “Anak-anak hari ini bu Guru telah siapkan sebuah cerita yang sangat menarik…” dst 2. Potongan cerita: “Pernahkah kalian mendengar kisah tentang seorang anak yang terjebak ditengah banjir, kemudian terdampar ditepi pantai…?” 3. Sinopsis: pernahkah anda menyaksikan tayangan singkat di sebuah acara televisi, yang mana didalam tayangan tersebut merupakan sinopsis dari sebuah film atau sinetron yang akan ditayangkan esok hari?” nah..cerita dapat diiklankan seperti sinetron atau film. Contohnya : “Cerita bu Guru hari ini / esok hari adalah cerita tentang “seorang anak kecil pemberani, yang bertempur melawan raja gagah perkasa perkasa ditengah perang yang besar” (kisah nabi Daud) mari kita dengarkan bersama-sama ! 4. Munculkan Tokoh atau personifikasi “ dalam cerita kali ini ada 4 orang tokoh penting…yang pertama adalah seorang anak yang jago main karate, ia tak kenal takut dengan siapapun…namanya Adiba, yang kedua adalah seorang ketua gerombolan perampok yang bernama Somad, badannya tinggi besar dan bila tertawa..ih mengeekan karena sangat keras…HA. HA..HA..HA..HA somad ini memiliki golok yang sangat besar, yang ketiga seorang ustadz yang bernama Ustadz Umar, wajahnya bersinar cerah dan menyenangkan dipandang mata...dst” 5. Setting tempat: “disebuah desa yang makmur…”, “dipinggir pantai..” “Ditengah Hutan…” “Ada sebuah kerajaan yang bernama ..” “Disebuah Pesantren…” dll 6. Setting waktu “Jaman dahulu kala…” “Jaman pemerintahan khalifah Usman…” ”Tahun 2045 terjadi sebuah tabrakan komet…” “Pada suatu malam…” “Suatu hari…” dll 7. Emosi : Adegan orang marah, menangis, gembira, berteriak-teriak dll 8. Musik & Nyanyian “Di sebuah negeri angkara murka dimulai cerita…(dinyanyikan), atau ambillah ebuah lagu yang popular, kemudian gantilah syairnya dengan kalimat-kalimat pembuka sebuah cerita. 9. Suara tak Lazim atau “Boom” : anada dapat memulai cerit dengan memunculkan berbagai macam suara seperti; suara ledakan, suara aneka binatang, suara bedug, tembakan dll 10. Musik rap dan acapella :Kalimat pembuka disajikan dikemas dalam lagu rap atau, musik yang muncul dari olah suara dari mulut kita D. Teknik menata alur cerita Seringkali alur menjadi salah satu sebab ketidak menarikan cerita yang kita bawakan, terasa monoton dan beku, mungkin kita terbiasa dengan urutan alur cerita yang begitu-begitu saja (stereotype) ada baiknya kita Melepaskan ke-jebakan itu dengan berani melakukan bongkar pasang alur cerita, berikut ini terdapat beberapa opsi penataan alur cerita: 1. ProgresIf : Awal – Tengah - Akhir 2. EpIsodic : Awal – Tengah – Akhir (disajikan secara serial) 3. Flash back / Sorot balik : Akhir – Awal – Tengah – Akhir Contoh: Ada seorang laleki gagah yang ketakutan karena hampir tenggelam, badannya sudah letih berenang di lautan...”Tolong! tolong! Aku hampir tenggelam” siapakah dia adik-adik? Jawabannya dalah.... 20 tahun sebelumnya ada seorang Raja yang bermimpi mahkotanya ditendang oleh seorang bayi...dialah Firaun/Ramses!) 4. Forshadowing : Awal (bayangan) – Awal – Tengah – Akhir Contoh: Suatu hari tejadi gempa bumi yang hebat, terdengar suara gemuruh dari tebing yang longsor....orang desa sumbersari mengungsi ke desa seberang....ternyata ada dua anak kak beradi dari desa sumbersari tadi yang tersesat jauh ke hutan saat menyelamatkan diri mereka ...... 20 tahun kemudian ..... 5. Cerita berbingkai : didalam cerita terdapat tokoh yang bercerita E. Memunculkan KonflIk cerita konflik/masalah yang dihadapi dan menuntut diselesaikan oleh para tokoh dalam cerita merupakan unsur yang penting dan utama, semakin menantang dan unik konflik/masalah tersebut akan audiens semakin tertantang mengikuti cerita tersebut, konflik dalam cerita ini dapat dikreasikan dalam berbagai macam diantaranya: 1. Person against self : seseorang /tokoh protagonais/lakon konflik/melawan keadaan yang ada pad dirinya sendiri, misalnya anak yang tidak penakut berusaha menjadi pemberani, anak yang cacat dan sebagainya. 2. Person against person : tokoh Protagonis melawan tokoh antagonis, biasanya melibatkan tokoh pembantu/tritagonis 3. Person against social : Tokoh protagonis memiliki masalah dengan lawan suatu kelompok 4. Person against nature : seorang tokoh memiliki masalh dengan alam, seperti anak yang tersesat dalam hutam, terjebak dirawa-rawa, selamat dari kecelakaan pesawat yang jatuh di pegunungan dam lain-lain I. Teknik Menutup Cerita pada dasarnya cerita adalah metode yang didominasi pendekatan kognitif atau menalar, maka pencerita yang baik dan trampil adalah mereka yang dapat membantu anak bukan hanya terhibur dan menalar cerita, lebih dari itu dapat membantu audiensnya mengendapkan materi kognitif tersebut kedalam jiwa mereka (afektif) bahkan menyentuh ruhani mereka, sehingga terjadi transformasi nilai pengetahuan dan nilai yang tinggi. Yang pada saatnya akan melahirkan pengertian, silap dan perbuatan yang lekat dengan nilai-nilai luhur tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan cara-cara berikut ini: 1. Tanya jawab: Tanya jawab biasanya berkisar kepada nama tokoh berikut perbuatan baik-buruk yang dilakukan,sehingga teknik ini dianggap kurang dapat menukikkan pesan-pesan yang ada dalam cerita kedalam jiwa audiens. 2. Doa khusus: Teknik ini dapat dilakukan secara pribadi maupun bersama-sama, tentu saja doaisi doatersebiut seputar refleksi dan permohon perubahan sikap dan perilakau lebih baik. 3. Ikrar/Janji untuk berubah menjadi lebih baik 4. Renungan Khusus, dapat berupa membacakan satu ayat suci, hadits, kata mutiara 5. Nyanyian: Tentu saja kita dapat memilih lagu atau nyanyian yang temannya relevan, teknik ini merupakan ending yang indah, serta cukup kuat untuk mengkristalisasikan nikai-niali yang dipelajari selama mendengarkan cerita. 6. Puisi semangat hidup, yang mamiliki kesamaan tema dengan materi cerita 7. Hafalan surat pendek, tentunya yang selaras atau memiliki kesamaan dengan tema cerita 8. Ikrar pro-kontra, audiens di ajak untuk mengikrarkan persetujuannya dan kecintaan pada perbuatan baik yang dilakukan dalam cerita, dan sebaliknya mengikrarkan diri membenci dan tidak akan melakukkan contoh perilaku buruk yang dilakukan tokoh tertentu dalam cerita tersebut. 9. Seandainya aku adalah … maka aku akan…(tokoh protagonis atau antagonis) 10. Role Play:: Ajaklah anak-anak memperagakan sosio drama berdasarkan cerita yang telah didengarkan, hal ini akan lebih menguatkan internalisasi nilai-nilai dalam cerita tersebut 11. Gambar: Menggambarkan salah satu adegan dalam ceritadiatas media kertas. 12. Aku punya pengalaman yang mirip, adakalanya seorang audiens memiliki pengalaman hidup yang mirip dengan cerita kita, maka tiada salahnya apabila kita berikan kesempatan untuk menyampaikan testimoni/kesaksian dihadapan pendengar lainnya, hal ini akan menjadi unsure yang menguatkan internalisasi nilai yang merupakan pesan. 13. Doakan Temanmu ! agar menjadi anak baik seperti tokoh yang baik dan tidak menjadi anak yang buruk seperti dalam cerita, dan seterusnya. Bercerita memang salah satu bagian dari keterampilan mengajar. Sebagai sebuah keterampilan penguasaannya tidak cukup hanya dengan memahami ilmunya secara teoritik saja. Yang lebih penting dari itu adalah keberanian dan ketekunan dalam mencobanya secara langsung. Itulah sebabnya, latihan-latihan tertentu yang rutin sangat dibutuhkan. Yang jelas, keterampilan teknis bercerita hanya dapat dikembangkan melalui latihan dan pengalaman praktik. Nah, akhirnya selamat bercerita !

Masih penasaran......baca selengkapnya

Rabu, 10 Februari 2010

Saat Bulan Sakit



Saat Bulan Sakit
Sore itu bintang-bintang berdandan rapi. Mereka membasuh mukanya sampai cemerlang. Matahari heran, “ Aduh....cantiknya. Kalian akan kemana ?” Mereka tersenyum. “Ke rumah Bulan,” Matahari terkejut, “Apakah di sana ada pesta? Mengapa aku tidak diundang?” “Bukan pesta,” jawab Bintang Kejora. “Kami akan menemani Bulan. Kasihan kalau dia harus bekerja sendiri di malam gelap. Karena itu kami membasuh muka sampai cemerlang. Langit yang gelap pasti akan cerah.”
Matahari menjadi sedih. “ Bulan sangat beruntung. Aku sudah bekerja keras tapi tak ada yang memperhatikan.”
Matahari ingat , jika mulai bersinar, banyak anak menangis kalau harus bangun untuk mandi dan berangkat sekolah. Siang hari pun Matahari sering mendengar orang mengeluh kepanasan. Sebaliknya, Banyak orang mengunggu Bulan. Mereka akan memandang Bulan sambil berdecak kagum.
“Indahnya Bulan hari ini. Sinarnya seperti emas.”
Matahari sangat sedih. Air mata menetes di pipinya yang merah. “A..aku memang tidak berguna. hik-hik-hik. Aku tidak mau bersinar lagi. Huuu......”
Menjelang pagi Bulan dan Bintang bintang pulang. Mereka sudah lelah setelah semalaman menerangi langit yang gelap.
Tetapi, oh...Pak Jago kebingungan. Dia sudah merasa waktunya bangun tetapi Matahari belum muncul, “ Mungkin aku bangun terlalu pagi. Kalau begitu tidur lagi ahhh.” Akibatnya semua orang terlambat bangun.
Awan segera ke rumah Matahari. Dilihatnya Matahari menutupi tubuhnya dengan selimut besar. Rambut merahnya berantakan.
“Kamu sakit?” tanya Awan.
“Tidak. Aku tidak mau keluar. Aku ini tidak berguna. Hik-hik-hik,” Matahari mulai menangis sedih. “Aku tidak seperti bulan. Dia selalu dikelilingi para bintang. Orang-orang juga selalu menunggu Bulan. Hik-hik-hik....huaaa...”
Karena Matahari tak mau muncul, Awan meminta Bulan untuk bersinar. Bulan yang sudah mengantuk akhirnya keluar lagi. Dia menggantikan Matahari. tetapi karena semalaman sudah bersinar, Bulan menjadi lesu. Sinarnya redup.
Dua hari lamanya Bulan harus bersinar siang dan malam. Tentu saja Bulan menjadi sangat lelah. Sinarnya menjadi sipit, namanya bulan sabit. Malamnya Bulan benar-benar sakit.
Matahari yang bosan meringkuk di tempat tidur keluar. Oh....diluar gelap. Ke mana Bulan ?
Awan menjawab, “Bulan sakit. Dia terpaksa menggantikanmu.”
Matahari terkejut. Dia tak menyangka kalau Bulan menggantikan dirinya. Matahari bergegas ke rumah Bulan. Dilihatnya Bulan memakai jaket tebal.
“Maafkan aku,” kata Matahari. “Aku sedih mendengarkan anak-anak tidak mau bangun pagi.”
Bulan tersenyum. “Tidak , kamu keliru. Ibu-ibu kebingungan karena baju dan kasur yang dijemur tidak kering. Tumbuhan juga memerlukan sinarmu untuk memasak makanan di daunnya.”
“Tetapi....aku tak pernah punya teman sepertimu.”
“Itu karena sinarmu sangat panas. Bintang-bintang tidak berani mendekat karena takut meleleh,” kata Bulan. “ Tetapi mereka selalu kagum pada sinarmu yang terang.”
Matahari menunduk malu. Tak pantas diri iri pada Bulan . Sejak itu Matahari tidak pernah malas bersinar.

Masih penasaran......baca selengkapnya

Minggu, 07 Februari 2010

kang deden lagi ng-MC-an dalam Acara Seminar Nasional
yang di ikuti oleh 250.guru TK dan SDIT
bersama Trainer Nasional RUA.Zaenal Fananidan Kepala Dinas Pendidikan Kab. Purworejo

http://salsabilatrainingcenter.blogspot.com

Masih penasaran......baca selengkapnya

Sabtu, 06 Februari 2010

Agar [prilaku anak jd baik

Agar Perilaku Anak Menjadi Baik

Perilaku anak adalah belajar dari perilaku lingkungan.
Lingkungan yang pengaruhnya besar terhadap perilaku anak terutama: orangtua, saudara sekandung, nenek-kakek, pengasuh, bibi-paman, teman bermain, teman sekolah dan guru.
Perilaku anda (hari ini) akan mempengaruhi perilaku anak di kemudian hari.
Oleh karena itu agar semua anak berperilaku baik, maka setiap hari anda harus berperilaku baik terhadap semua anak (walaupun ia bukan anak anda).
Contoh Perilaku Yang Tidak Baik Terhadap Anak Dan Akibatnya

ü Mendikte, melarang = tidak punya inisiatif
ü Membatasi ide, pendapat, kreasi = tidak kreatif
ü Mencela = menyalahkan diri sendiri, orang lain
ü Mengejek, mengolok-olok, meremehkan = rendah diri, pemalu, melawan
ü Membuatnya ketakutan = mudah cemas
ü Memusuhi = melawan
Contoh Perilaku Yang Baik Terhadap Anak Dan Akibatnya

ü Memberi kesempatan berinisiatif = kreatif
ü Menunjukkan toleransi = sabar, pandai menahan diri
ü Memberi dorongan = percaya diri
ü Memuji = menghargai (anda dan orang lain)
ü Bersikap adil, jujur = menjaga kebenaran, keadilan
ü Memberi rasa aman = mempercayai orang lain
ü Ramah, kasih sayang, hangat è mudah bergaul, membantu, bersahabat

Masih penasaran......baca selengkapnya

ISLAM KATANYA SESAT...JKATA SANG PENIPU..

nAUDZUBUIILLAH TUH ORANG NULIS GA TANGGUNG JAWAB..YA..TAPI BIARLAH INI TANDANYA UMMAT ISLAM MAU MAJU...INGIN LIHAT SELENGKAPNYA..BLOG YANG GA TANGGUNG JAWAB DI http://beritamuslim.wordpress.comIslam, selalu saja bikin pusing! Muslim paling rajin mengaku bahwa semua dan segala hal yg baik didunia ini terjadi karena Islam. Tapi giliran terjadi kebiadaban atas nama auwloh mereka, mereka akan sibuk kebakaran jenggot, bersikeras menyangkal dan mencuci tangan mereka atas semua dan segala hal yg memalukan mereka.

Bahkan mereka tanpa malu-malu mengaku bahwa semua dan segala hal yg baik yg dikandung AS berasal dari Islam. Malah ada yg berani mengatakan bahwa, “Amerika lebih Islami dibanding negara-negara muslim.” Ketika ditanya, “Kok bisa?” Mereka akan menunjuk pada hal-hal baik ttg orang-orang & tata pemerintahan AS. Seakan, semua yg baik itu adalah produknya Islam. Para islamis selalu mencoba menggunakan formula universal mereka: “RUMAHKU adalah PUNYAKU; RUMAHMU adalah… PUNYAKU JUGA DONG! Tentu saja, tak seorangpun berani bertanya bagaimana, dimana, kapan dan hal-hal baik apa yg pernah terjadi dlm sepanjang sejarah Darul Islam! Mereka tidak mengerti apa yg mereka bicarakan namun paling rajin memaksakan pernyataan-pernyataan rancu mereka kepada kita!

Masih penasaran......baca selengkapnya

TIGA BUKTI LOGIS ALLAH BUKAN THAN..KATA PENIPU

Saya katakan MUSLIM itu GOBLOK, karena sudah jelas kalau allah swt yang mereka sembah sesungguhnya bukanlah TUHAN tapi berhala, namun mereka masih saja menutup mata dan tetap membohongi pikiran mereka sendiri kalau allah swt adalah Tuhan. (Islam biasanya suka mengejek orang Nasrani karena mempertuhankan manusia. Lebih goblok lagi, orang yang mempertuhankan batu!)

Saya boleh katakan, bangsa Arab sebenarnya tidak berniat menipu, mereka sendiri justru tertipu oleh keprimitifan nenek moyang mereka yang menganggap batu hajar aswad sebagai Tuhan. Mereka sendiri begitu yakin, sangat-sangat yakin, kalau batu itu adalah Tuhan.
Hal ini tidak aneh, karena bila kita tilik dari sejarah bangsa-bangsa kuno, terutama mereka yg begitu terbelakang, mereka mempercayai JIMAT, batu bertuah atau batu jeda sebagai “DZAT” yang memiliki kekuatan supranatural (adikodrati) dan dapat mempengaruhi kelangsungan jagat raya ini, termasuk hidup matinya makhluk hidup.Maka kita akhirnya dapat mengerti dan menerima kegoblokan bangsa Arab itu, bahwa mereka sesungguhnya sadar bahwa yang mereka sembah itu adalah batu, namun mereka dengan senang hati melakukannya karena bagi mereka, batu itu adalah TUHAN SANG PENCIPTA (wujud dari berhala dewa bulan sabit). Mereka tidak merasa diri mereka goblok, karena otak mereka yang primitif.

Bila kita sebagai bangsa Indonesia yang sebenarnya telah memiliki peradaban lebih tinggi dan lebih pintar dari bangsa primitif Arabia itu, malah mengikuti pola berpikir, mengadopsi keprimitifan mereka, yaitu ikut-ikutan bangsa primitif itu dengan turut melakukan penyembahan kepada batu, berarti kita sebagai bangsa Indonesia adalah bangsa yang SANGAT GOBLOK.

Biarkan Arab punya tuhannya sendiri. Awloh adalah tuhan lokal mereka, biarkan mereka. Mereka mau meyakini batu sebagai Tuhan, itu urusan mereka sendiri. Tapi sangatlah GOBLOK bila kita yang lebih tinggi budayanya dari mereka malah ikut-ikutan bangsa primitif itu.

Memang kita tidak bisa memungkiri, nabi mereka memang secara sengaja hendak menjadikan tuhan lokal mereka menjadi tuhan universal, dengan cara memaksa bangsa-bangsa lain untuk turut menyembahnya. Secara psikologis, bila awloh disembah di seluruh dunia berarti derajat bangsa Arab akan terangkat pula, dan itu memberi keleluasaan bangsa Arab untuk dapat berkuasa penuh di bumi. Itu secara umum; dan secara khususnya, dengan mengorbitkan awloh sebagai satu-satunya sesembahan yg agung, berarti mengangkat citra bani Quraish (penduduk kota Mekkah) sebagai suku yang terhormat.

Anda bisa bayangkan, sewaktu seluruh dunia mengucapkan kalimat: “Laa illa ha illalaaa…. Laa illa ha illalaaa….” Betapa bangganya orang Quraish, nama sesembahan mereka diakui dan dipuja-puja.

Mereka yang pintar, kita yang goblok.

Maka dari itu, tanpa perlu banyak argumentasi/pendapat lagi, saya akan suguhkan bukti-bukti logika kenapa MUSLIM itu GOBLOK.

Perhatikan ini!
1. Ke arah mana kiblat sholatmu? Ke Kaabah, di mana disitulah ditempatkan batu “awloh” sembahan Quraish. Jadi, yang kamu sembah bukan SANG PENCIPTA, tapi tuhannya Quraish, penduduk kota Mekkah.

Perhatikan juga ucapan nabi gadungan ini:

QS. 27 An Naml: 91
“Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (awloh sembahan Quraish Mekkah) Yang telah dijadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

Awloh beda dengan Tuhan Yahudi & Nasrani:

Surat ALBAQARAH (2:62)
Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Siapakah awloh? Awloh adalah batu hajar aswad, “Tuhan” bagi suku Quraish. Sebelum Muhammad memproklamirkan diri sebagai nabinya awloh, batu hajar aswad sudah demikian dikultuskan, dan menjadi salah satu penghuni Kaabah di samping 359 berhala lain sembahan suku-suku di Arab.

Ini dapat kita ketahui dari riwayat pengangkatan batu tersebut sewaktu Kaabah rusak ditimpa banjir besar. Ingat! Waktu itu Muhammad belum jadi “nabi”. Suatu ketika di saat Muhammad berusia 35 tahun, Kaabah rusak ditimpa banjir. Orang-orang bersepakat membangun kembali kuil itu, tidak ketinggalan Muhammad. Ketika sampai pada saat mengembalikan Hajar Aswad (Batu Keramat berwarna Hitam) ke tempatnya semula, timbul kericuhan. Masing-masing merasa lebih berhak mendapat kehormatan mengerjakan hal itu. Orang bersitegang, hingga seluruh pekerjaan terhenti karenanya. Akhirnya dimufakati untuk menyerahkan keputusan persoalan kepada barangsiapa yang esok harinya paling dahulu berada di Masjid al Haram. Ternyata orang itu ialah Muhammad, padahal dia tidak sengaja berusaha datang lebih pagi. Kemudian, Muhammad membeberkan selembar kain, mengangkat dan meletakkan batu keramat itu di atas kain tersebut. Kemudian para kepala keluarga/kelompok/ kafilah/orang terkemuka diajak beramai-ramai mengangkat dan membawa kain itu ke tempat di mana batu hitam akan diletakkan dan Muhammad sendiri meletakkannya di atas tempatnya semula. Sejak saat itu Muhammad mendapat tempat terhormat di hati orang-orang Mekah. Kewibawaan Muhammad naik di mata rakyat. Dan sejak saat itu pula, Muhammad semakin sering bersemedi di dalam gua angker, sebuah gua yang sempit dan gelap gulita, namanya gua Hira. Untuk memasuki gua tersebut, orang harus merangkak. Gua itu terletak di bukit Hira ±9km dari Mekah.

Baca juga di:

Samakah ALLAH SWT dengan Tuhannya Ibrahim dan para nabi?
http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=22064
2. Simbol apa yang terpasang di atap rumah ibadatmu? Bulan Sabit. Awloh adalah dewa bulan, yg simbolnya adalah bulan sabit. Ini sudah cukup dikenal oleh bangsa-bangsa primitif di Timur Tengah sejak ribuan tahun yg lalu sebelum si Mamad lahir.

Gbr 5. Masjid Quba, masjid pertama yang dibangun, di atasnya terdapat lambang bualn sabit (bdg. Gbr 6 & 7).

Gbr 6: Lambang bulan sabit yang terdapat pada masjid-masjid di zaman sekarang (Bdg. Gbr 5 & 7).


Gbr 7. Perunggu bulan sabit ditemukan di benteng kuno Asyiria yang berusia 3000 tahun. Bulan sabit adalah simbol dewa bulan Asyiria.

Catatan: Lambang dewa bulan sabit memiliki bentuk yang persis sama dengan bulan yang ada di atas Ka’bah masjid.

Gbr 8. Raja Nabonidus, di atasnya terdapat gambar bulan sabit yang pada masa ini terdapat di masjid-masjid.


Gbr 9. Dewa bulan sabit, simbolnya adalah bulan sabit.

Gambar ini diperoleh dari situs ISLAM TULEN: Arrahmah.com

3. Ritual apa yang dilakukan oleh para calon haji di Mekkah? Sebelum muter-muter kaabah, sebisa mungkin mereka melakukan sunnah Muhammad yaitu menciumi “awloh”. Dan sebelum mencium awloh, mereka mengucapkan: “Ya awloh, aku penuhi panggilanmu.” Hal itu dicontohkan Muhammad ketika dia melakukan ibadat haji:

Hadits Sahih Bukhari Volume 2, Book 26, Number 673:
Dikisahkan oleh Salim bahwa ayahnya berkata :
Aku melihat Rasul Allah tiba di Mekah; mula2 dia mencium batu hitam (hajar aswad) ketika akan melakukan tawaf dan berlari-lari kecil di tiga putaran (tawaf) pertama dari tujuh kali putaran (tawaf)

MUWATTA, Book 20, Number 20.33.113:
Yahya bercerita padaku dari Malik apa yang dia dengar bahwa ketika Rasul Allah SAW telah selesai Tawaf Kabah, sholat dua rokaat, dan ingin berangkat ke Safa dan Marwa, dia akan memberi hormat ke sudut tempat Batu Hitam berada sebelum berangkat.

BATU HITAM “awloh” itu begitu penting dalam ritual haji muhammad di mekah….Pertama, dia cium itu batu hitam, terus berlari keliling kabah TIGA KALI…trus berjalan keliling kabah EMPAT KALI!…

MUSLIM, Book 007, Number 2832:
Abdullah b. ‘Umar (Allah be pleased with them) melaporkan: Rasul Allah (mpbuh) mengamati Tamattu’ in Hajjat-ul-Qada’, Pertama-tama dia pakai Ihram utk Umroh dan kemudian utk Haji, dan lalu memberi korban binatang. Jadi dia bawa binatang kurban itu bersamanya dari Dhu’l-Hulaifa. Rasul Allah (mpbuh) memulai Ihram utk Umroh dan dg demikian mengumumkan juga Talbiya utk Umroh. Lalu (memakai Ihram utk Haji) dan mengumumkan Talbiya utk Haji. Dan orang2 melakukan Tamattu’ ditemani Rasul Allah (mpbuh). Mereka memakai Ihram utk Umroh (pertama tama) dan kemudian yang untuk Haji. Beberapa dari mereka membawa binatang kurban. Jadi ketika Rasul Allah (mpbuh) datang ke Mekah, dia bilang pada orang2: Dia yang membawa serta binatang kurban tidak boleh menganggap apapun yang tidak hak baginya menjadi hak baginya sampai dia menyelesaikan Haji; dan dia, yang tidak membawa binatang kurban harus mengelilingi Kabah dan berlari diantara al-Safa’ dan al-Marwa dan memotong (rambutnya) dan melepas Ihram lalu memasang Ihram utk berhaji dan memberi kurban. Tapi dia yang tidak menemukan kurban, harus melakukan puasa selama tiga hari selama haji dan tujuh hari ketika dia kembali kepada keluarganya. Rasul Allah (mpbuh) mengelilingi (kabah) ketika dia sampai di Mekah: Dia pertama-tama mencium sudut (Kabah yang ada batu Hitam), lalu berlari tiga keliling dari tujuh dan berjalan empat keliling. Dan lalu ketika dia selesai mengelilingi Kabah dia melakukan sholat dua rokaat pada station (ibrahim), lalu mengucap Salaam (karena selesai Rokaat), dan berangkat ke al-Safa’ dan berlari tujuh kali antara al-Safa’ dan al-Marwa. Setelah itu dia tidak memperlakukan apapun sebagai hak segala sesuatu yang bukan hak sampai dia melengkapi hajinya dan mengurbankan kurban dihari kurban (hari ke-10 Dhu’l-Hijja). Dan lalu kembali secepatnya (ke Mekah) dan mengelilingi Kabah (dikenal sebagai tawaf ifada) setelah itu semua yang bukan hak baginya menjadi hak. Dan mereka yang membawa hewan kurban bersama mereka melakukan apa yang dilakukan Rasul Allah (mpbuh). Hadis ini diriwayatkan atas otoritas Aisha. Istri dari Rasul Allah (mpbuh), mengenai Tamattu dari Haji dan Umrah dan bagaimana melakukan Tamattu oleh para sahabat.

Ada lagi ritual selain mencium dan menghormat BATU HITAM “awloh”. muhammad juga sering menunjuk menggunakan tongkat ke arah BATU HITAM seraya meneriakkan, ‘allahuakbar’!…

BUKHARI, Volume 2, Book 26, Number 677:
Diriwayatkan oleh Ibn Abbas.:
Dalam Haji Terakhirnya nabi melakukan Tawaf Kaba dengan naik unta dan menunjuk sudut (kabah yg ada batu hitam) dengan tongkat yang berujung bengkok.

BUKHARI, Volume 2, Book 26, Number 697:
Diriwayatkan oleh Ibn Abbas.:
Rasul Allah melakukan Tawaf (kabah) dengan naik unta (saat itu kaki nabi sedang terluka). Ketika sampai ke sudut (yang ada batu hitam) dia menunjuk kearah batu itu memakai sesuatu pada tangannya dan berkata, “Allahu-Akbar.”

Calon haji cium batu

Hadis Sahih Muslim 1190
“Tatkala Rasulullah SAW tiba di Mekah, mula-mula beliau datangi Hajar Aswad lalu beliau mencium.”

Hadis Sahih Muslim 1150
Sebelum mencium Hajar Aswad itu, Muhammad mengucapkan:
“Labbaik allahuma labbaik” yang berarti : “Ya Allah atas panggilanMu aku datang kepadaMu.”

ABU DAWUD, Book 10, Number 1813:
Diriwayatkan Abdullah ibn Abbas:
Nabi (pbuh) berkata: Orang yang melakukan umrah harus berteriak talbiyah sampai dia menyentuh Batu Hitam.

[Talbiyah = "Ya Allah, aku datang memenuhi undanganmu. Tiada sekutu bagimu..."]

Berdasarkan 3 (tiga) bukti logis ini, maka tak dapat disangkal lagi, bahwa MUSLIM itu memang GOBLOK.

Sudah jelas-jelas allah swt itu bukan Tuhan, tapi masih diyakininya sebagai Tuhan. Kalau orang Arab yang menganggap allah swt itu Tuhan, ya biarkan saja mereka, kenapa kita yang lebih cerdas dan lebih pintar dari mereka malah ikut-ikutan mereka?

Kita harus lawan habis-habisan, setiap usaha kacung-kacung Arab untuk menyebarkan Islam. Karena jelas ini adalah usaha penggoblokan, dan kita yang tidak ingin diri kita digobloki, kita harus dengan tegas menolaknya.

Kalau mereka tetap memaksa kita menyembah batu, kita harus siap dengan PERANG DUNIA KETIGA, karena membiarkan Arab tetap eksis sama saja membiarkan virus berbahaya nongkrong di bumi kita. Tidak ada cara yang lebih jitu selain menuklir Kaabah, sarang berhala itu.

────────────────────────────────

R I N G K A S A N :

3 BUKTI LOGIS DAN FAKTUIL YANG TIDAK TERBANTAHKAN :

1. Arah Kiblat ke Kaabah, menunjukkan bahwa sesembahan Muslim adalah berhalanya Quraish.
2. Simbol bulan sabit, adalah simbol DEWA BULAN.
3. Ritual cium batu oleh para calon haji, yg diikuti dg seruan “Ya allah, aku datang kepadamu.”

-

1. Kaabah, sebelum dibersihkan oleh Muhammad, berisi 360 berhala. Satu di antaranya adalah Allah taala yg wujudnya BATU. Orang Quraish yg primitif itu menganggap BATU tersebut adalah TUHAN SANG PENCIPTA. Demikianlah pandangan bodoh itu terus diadopsi hingga sekarang, tapi dikaburkan supaya tidak diketahui oleh dunia bahwa allah taala itu sebenarnya cuma sebuah batu.
2. Bangsa-bangsa kuno di Mesopotamia menyembah DEWA BULAN, simbolnya BULAN SABIT. Dan sekarang Arab memakai simbol tersebut untuk agamanya, masihkah Anda mengelak dari kenyataan ini?
3. Batu Hajar Aswad dicium, lalu diikuti seruan: “Ya allah, aku datang kepadamu”. Masihkah Anda membantah kalau batu itu bukan allah?

Catatan:
Saya tidak seharusnya mengotak-atik masalah ketuhanan mereka, seandainya “apa” yang disebut tuhan oleh mereka itu tidak mengajarkan kebiadaban dan kekejian kepada umat manusia.

Tapi karena “apa” yang disembah oleh mereka itu membawa dampak yg buruk bagi umat manusia, maka “apa” sesungguhnya sesembahan mereka perlu kita ekspos habis-habisan, bila perlu kita permalukan dan kita hina habis-habisan.

Pesan:
Biarkan orang mau menyembah apapun, asal “benda” itu tidak mengajarkan kebiadaban dan kekejian bagi umat manusia.

Tapi terhadap “benda” yang sudah jelas-jelas berdampak negatif, tidak ada toleransi buat “benda” seperti itu kecuali kita hancurkan.
Pertanyaan-pertanyaan:

Jika BATU HITAM itu AWLOH, kenapa ditempatkan di luar Kaabah, bukan di dalamnya?

Masih ingat dengan istilah “PENUNGGU KAABAH”? Bangsa Arab percaya bahwa awloh menjaga “RUMAH”-nya dengan cara berdiri di salah satu sudut rumahnya. Di samping itu, awloh tidak sendirian, dia juga dikawal oleh 8.888 jin, yang diberi nama “Huda Al-Fitiri”. Jadi, menempatkan batu “awloh” di luar, terutama di salah satu sudut bangunan Kaabah memiliki arti “MENJAGA” atau “MENUNGGUI RUMAHNYA”.

Jika BATU HITAM yg ukurannya kecil itu AWLOH, bukankah ini bertentangan dengan konsep “ALLAHU-AKBAR”?

Bangsa Arab tidak memandang ukuran fisiknya. Pengertian dari “akbar” di sini bukan menyatakan ukuran fisiknya, tapi kekuasaannya. Bangsa Arab meyakini, walaupun awloh “seukuran batu” namun kekuasaannya meliputi seluruh alam semesta. Itulah kenapa ada mitos “ALLAHU-AKBAR”.

Muhammad sendiri memahami konsep tersebut, seperti terlihat dari hadist berikut ini:

BUKHARI, Volume 2, Book 26, Number 697:
Diriwayatkan oleh Ibn Abbas.:
Rasul Allah melakukan Tawaf (kabah) dengan naik unta (saat itu kaki nabi sedang terluka). Ketika sampai ke sudut (yang ada batu hitam) dia menunjuk ke arah batu itu memakai sesuatu pada tangannya dan berkata, “Allahu-Akbar.”

Jika BATU HITAM itu awloh, kenapa Muhammad tidak berterus-terang menulis dalam Qurannya kalau awloh itu berwujud batu?

Walaupun bangsa Arab itu primitif, namun mereka tidak bodoh-bodoh amat. Mereka juga dekat dan berinteraksi dengan agama-agama lain, terutama dengan agama-agama kitab seperti Yahudi dan Nasrani. Tentu saja bangsa Arab akan merasa malu bila sampai dunia tahu kalau awloh itu cuma sebuah batu. Walau begitu, mereka tetap tidak bisa menyembunyikan identitas awloh sembahan mereka itu sebagai batu secara sempurna. Mereka masih menyebut awloh sebagai “DZAT” (benda wujud). Bangsa Arab menganggap Tuhan itu “DZAT” yang unique, distinct dan absolut (berbeda sendiri, tidak ada yang menyamai bentuknya, dan tidak bisa berubah wujud), karena memang seperti itulah hakikat BATU HITAM. Selain itu, penyebutan awloh sebagai tauhid juga mengarah pada identitas kebendaan (tunggal secara bendawi).

Apa Hubungan SABIT dengan BATU HITAM?

Sabit adalah simbol dewa bulan. Orang-orang kuno di Mesopotamia menyembah bulan sabit sebagai Tuhan, dan mewujudkannya dalam bentuk patung manusia (Hubal). Di Kaabah juga terdapat Patung Hubal, sebagai salah satu di antara 360 berhala. Tapi, walau suku Quraish Jahiliyah sama-sama menyembah Dewa Bulan, namun mereka tidak memakai patung Hubal sebagai perwujudannya, melainkan sebuah BATU HITAM “HAJARUL ASWAD”. Jadi, Patung Hubal adalah dewa bulannya suku lain di Arab, sementara BATU HITAM adalah dewa bulannya suku Quraish. Ketika Muhammad berhasil menaklukkan Mekkah, dia menyingkirkan berhala-berhala lain, termasuk patung dewa bulan “Hubal” itu. Patung Hubal dia singkirkan, karena patung Hubal itu bukan sesembahan bani Quraish, walau sama-sama diklaim oleh suku lain sebagai Dewa Bulan. Sama-sama Dewa Bulan, tapi bentuknya beda, dan namanya pun juga beda. Bisa jadi, di dalam Kaabah masih ada lagi Dewa Bulan-Dewa Bulan lain dengan bentuknya masing-masing sesuai dengan keinginan suku pemiliknya. Nama “Allah” adalah eksklusif milik suku Quraish Mekkah, dan tidak diterapkan pada patung lain, kecuali BATU HITAM itu. Dan Muhammad masih memakai simbol sabit, karena sabit adalah identitas bagi BATU HITAM, untuk menegaskan bahwa BATU HITAM itulah Dewa Bulan yang sesungguhnya, bukan patung-patung yang lain.

Batu hitam "Hajar aswad"

Bila Awloh itu Berhala, kenapa Muhammad tidak pernah merasa menyembah Berhala?

Bagi orang Arab primitif, berhala itu wujudnya makhluk, seperti misalnya: wujud manusia atau wujud hewan. Bila bentuknya batu (tidak menyerupai apapun), maka dianggap bukan berhala. Muhammad akan sangat murka bila sesembahannya diserupakan dengan apapun. Allah taala dewa bulan itu absolut, unique dan distinct. Tak ada yang menyamai bentuknya, sangat unik dan berbeda dari ciptaannya, serta tidak akan pernah berubah wujud sampai kapan pun walau untuk sementara waktu (absolut secara kebendaan). Banyak ayat-ayat Quran yang dia karang yang isinya melarang pengikutnya menyerupakan awloh dengan makhluk. Muhammad benci pada patung, tapi cinta pada batu. Karena bagi Muhammad, batu yang tak berbentuk atau tidak menyerupai apapun di muka bumi bukanlah patung (berhala).

Bila Arab penyembah bulan, kenapa tidak ada ritual menyembah bulan secara langsung?

Orang Jepang penganut agama Shinto, walau mereka menyembah Matahari, tapi mereka tidak menjalankan ritual-ritual yg secara menyolok mengarah langsung pd pemujaan Matahari, karena Sang Dewa sudah dialihkan ke dalam atribut lain, seperti berupa patung atau jimat-jimat. Demikian pula Arab. Mereka tidak menunjukkan ritual pemujaan yg langsung mengarah pada bulan di langit, karena Sang Dewa sudah dialihkan ke bentuk batu bernama Hajar Aswad. Jadi, persembahyangan mereka ditujukan tidak lagi terhadap bulan di langit, tapi kepada batu tersebut. Kenapa terjadi pengaburan? Apakah ini bertujuan untuk mengelabuhi orang lain supaya tidak kentara kalau mereka sesungguhnya penyembah benda-benda langit? Salah satu alasannya bisa begitu, karena perkembangan informasi antar agama dan kemajuan Iptek membuat mereka merasa malu kalau sampai diketahui dunia bahwa mereka adalah penyembah bulan. Jadi, sosok sesungguhnya yg mereka sembah dengan sengaja disamarkan. Muhammad pun dengan cerdiknya menutupi hal ini, seperti terlihat pada ayat berikut:

QS 2:189.
Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.

Tetapi tetap saja dia tidak dapat menutupi hal ini secara sempurna, karena simbol itu, biar bagaimanapun, masih harus dipakai sebagai simbol “Tuhan”.

Kenapa mula-mula sholat Islam diarahkan ke Yerusalem yg tidak ada BATU HITAM-nya?

Itu tidak benar. Karena sholat mula-mula di Mekkah tidak mempunyai kiblat. Muslim bebas menghadap ke arah mana pun. Setelah hijrah ke Medinah, pada awal-awal interaksinya dengan orang Yahudi di kota itu, Muhammad menyamakan kiblat muslim dengan orang Yahudi, yaitu ke Yerusalem. Hal itu terjadi selama lebih kurang 17 bulan.

Itu hanya trik awal Muhammad saja untuk menggaet orang-orang Yahudi Medinah agar tertarik dan bersedia masuk Islam jadi pengikutnya.

Hadis Sahihu’l-Bukhari, Kitabu’l-Imam, vol. i. p. 18.
Pada awalnya, sang Nabi memerintahkan sembahyang dengan Qibla ke arah Yerusalem selama enam belas atau tujuh belas bulan, dan dia senang ketika Mekah menjadi arah Qibla.
Ketika tahu orang-orang Yahudi tetap tidak bersimpati padanya dan tidak mau mengakuinya nabi, maka Muhammad menjadi sangat membenci umat itu, dan memutuskan untuk mengubah arah kiblat ke kotanya sendiri, yaitu Mekkah.

Hal itu tampak dalam ayat-ayat Medinah tentang pemindahan kiblat yang dikarangnya:

QS 2:143.
Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.

QS 2:144.
Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

QS 2:149.
Dan dari mana saja kamu keluar (datang), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram, sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.

QS 2:150.
Dan dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.

Apakah ALLAH adalah bagian dari PERSERIKATAN (KELOMPOK) 360 Berhala yang ada di Ka’bah?

Itu benar sekali. Allah adalah salah satu dari 360 berhala yang ngendon di Ka’bah. Itulah kenapa, ada ayat-ayat seperti ini (mohon perhatikan baik-baik):

QS 7:191.
Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhada-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang.

QS 17:42.
Katakanlah: “Jikalau ada tuhan-tuhan di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai ‘Arsy.”

QS 22:26
“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku (=awloh) dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang rukuk dan sujud.”

Ketika Muhammad menghancurkan berhala-berhala dari dalam Ka’bah, Muhammad menyisakan HAJAR ASWAD. Kenapa? Karena HAJAR ASWAD itulah ALLAH. (Perhatikan kembali ayat-ayat di atas, sebagai pedoman Muhammad untuk melegalkan sepak terjangnya).

Kalau awloh bukan salah satu dari 360 berhala, mengapa ada ayat-ayat di atas? Dan kenapa HAJAR ASWAD tidak turut dimusnahkan?
HAJAR ASWAD = ALLAH.

Hajar aswad sekedar nama samaran, sedangkan ALLAH adalah nama yang sesungguhnya. Arab-arab itu licik, mereka tidak ingin agamanya ditertawakan oleh umat agama Samawi, jadi mereka perlu bersekongkol untuk menipu dunia dan berusaha mengaburkan sosok awloh yang sesungguhnya.

Tapi, mereka tetap tidak bisa menutupinya secara sempurna.

Lihat, apa yang diperbuat Muhammad terhadap HAJAR ASWAD:

MUWATTA, Book 20, Number 20.33.113:
Yahya bercerita padaku dari Malik apa yang dia dengar bahwa ketika Rasul Allah SAW telah selesai Tawaf Kabah, sholat dua rokaat, dan ingin berangkat ke Safa dan Marwa, dia akan memberi hormat ke sudut tempat Batu Hitam berada sebelum berangkat.

BUKHARI, Volume 2, Book 26, Number 697:
Diriwayatkan oleh Ibn Abbas.:
Rasul Allah melakukan Tawaf (kabah) dengan naik unta (saat itu kaki nabi sedang terluka). Ketika sampai ke sudut (yang ada batu hitam) dia menunjuk kearah batu itu memakai sesuatu pada tangannya dan berkata, “Allahu-Akbar.”

Apakah Muhammad pernah hormat kepada Ka’bah? TIDAK PERNAH.
Apakah Muhammad pernah menunjuk ke arah Ka’bah, lalu berseru: “ALLAHU-AKBAR”? TIDAK PERNAH.

MUSLIM, Book 007, Number 2907:
Salim melaporkan atas otoritas ayahnya bahwa Rasul Allah tidak menyentuh sudut manapun dari Kabah, kecuali sudut Hitam (yang ada Batu Hitam terpasang) dan bagian kecil di dekatnya, yang mengarah ke arah rumah2 suku Jumuhi.

Kalau masih ada orang yang menyangka Ka’bah itulah ALLAH, ini salah. Karena HAJAR ASWAD itulah ALLAH YG SEBENARNYA.

ABU DAWUD, Book 10, Number 1813:
Diriwayatkan Abdullah ibn Abbas:
Nabi (pbuh) berkata: Orang yang melakukan umrah harus berteriak talbiyah sampai dia menyentuh Batu Hitam.

Talbiyah, adalah seruan-seruan terhadap awloh:
“Kami penuhi penggilan-Mu, kami penuhi panggilan-Mu, kami penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, kami penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji dan kenikmatan bagi-Mu, dan kerajaan (bagi-Mu) tiada sekutu bagi-Mu.”

Muhammad tidak saja menghormat dan meneriaki Hajar Aswad sebagai “allah yang maha akbar”, tapi juga menyentuh, mengelus dan menciumnya, ibarat seorang pemuja jimat yang sangat cinta pada jimatnya.

ABU DAWUD, Book 10, Number 1884:
Diriwayatkan Abdullah ibn Abbas:
Nabi (pbuh) menjepit jubah pada ketiak kanannya dengan ujung jubah itu ada pada bahu kirinya, dan menyentuh sudut (batu hitam), lalu meneriakkan “Allahu-Akbar” dan berjalan dengan bangganya mengelilingi Kabah tiga kali. Ketika mereka (para sahabat) mencapai sudut Yaman, dan menghilang dari mata orang Quraish, mereka berjalan seperti biasa; ketika muncul dihadapan mereka mereka berjalan dengan gagah dan langkah yang cepat. Dengan itu kaum Quraish berkata: Mereka seperti rusa (yang sedang lompat). Ibn Abbas berkata: oleh karena itu hal ini lalu menjadi Sunnah (suri tauladan Nabi).

Hadits Sahih Bukhari Volume 2, Book 26, Number 673:
Dikisahkan oleh Salim bahwa ayahnya berkata :
Aku melihat Rasul Allah tiba di Mekah; mula2 dia mencium batu hitam (hajar aswad) ketika akan melakukan tawaf dan berlari-lari kecil di tiga putaran (tawaf) pertama dari tujuh kali putaran (tawaf).*

Kegiatan ritual menyembah berhala

Sumber : http://duladi.t35.com/3FaktaAUWOH.htm

Masih penasaran......baca selengkapnya

Jumat, 05 Februari 2010

MENGAJAR ANAK-ANAK DENGAN MEMANFAATKAN METODE BCM ( BERMAIN CERITA MENYANYI ) II

Lanjutan.... BCM
CERITA

“ Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-qur’an ini kepadamu,……..”.
Dari penggalan Al Qur’an surat Yusuf ayat 3 diatas, dapatlah diambil pelajaran bahwa secara implisit Allah menyebut Al-Qur’an dengan ‘kumpulan cerita yang paling baik’. Maksudnya dalam mengajak manusia kedalam keimanan dan ketaatan kepada robbnya, Allah pun menggunakan metode yang menyentuh hati nurani,yaitu cerita / kisah-kisah. Hikmah yang dapat diambil atas sebuah cerita / peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu adalah sungguh merupakan pengalaman yang sangat berharga untuk kita berikhtibar atas peristiwa itu. Allah berfirman,
“faq shulshil qoshosho la’allahum yatafakkaruun.”
Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.
( Al A’rof 176).
Dengan demikian, secara khusus Allah hendak mengajarkan kepada Rosulullah dan tentu juga kepada para pengikutnya yang setia,bahwa cerita adalah metode tarbiyah yang paling tepat dan efektif untuk mengajar manusia berbuat baik (akhlakul karimah) tanpa merasa digurui. Karena itulah Allah sering kali menggunakan tamsil-tamsil, perupamaan, pelukisan-pelukisan untuk mengajar manusia menuju ketaatan syariat, antara lain diambil dari dunia binatang dan tumbuhan yang dilukiskan dalam Al Qur’an dengan bahasa yang indah dan mempesona.
Mangingat begitu besarnya perhatian Allah pada metode bercerita ini tentu wajar jika terbersit pertanyaan dihati kita,mengapa metode bercerita ini efektif sekali? Jawabnya adalah pertama, cerita umumnya lebih berkesan daripada nasehat murni,sehingga pada kebanyakan hal, cerita yang kita dengar dimasa kanak-kanak dulu masih bisa kita ingat dengan utuh berpuluh-puluh tahun. Kemudian., yang kedua, melalui cerita manusia diajarkan untuk mengambil hikmah tanpa merasa digurui. Memang harus diakui sering kali hati kita tidak merasa nyaman bila harus dikhutbahi dengan segerobak nasihat yang berkepanjangan. Uraian diatas menggambarkan bahwa cerita sangat erat kaitannya dengan dunia pendidikan. Sebagai konsekwensinya kita sebagai pengasuh /pendidik anak-anak yang sangat menggandrungi terbitnya generasi robbani dengan kesholihan amal dan luasnya pengetahuan mereka, harus merasa ikut diperintah Allah untuk menebar dan mengajar manusia dengan kesantunan tutur lewat cerita ini.

Fungsi Cerita

1. Sarana kontak batin antara pendidik dan anak didik.
2. Pendidikan imajinasi / fantasi.
3. Pendidikan emosi (perasaan) anak didik.
4. Sarana pendidikan bahasa anak didik.
5. Membantu proses identifikasi diri / perbuatan.
6. Media penyampai pesan / nilai-nilai agama.
7. Sebagai sarana hiburan dan pencegah kejenuhan.


Klasifikasi cerita.
Sebelum seseorang bercerita, terlebih dahulu ia harus memilih / menentukan terlebih dahulu jenis cerita apa yang cocok dan sesuai dengan obyek dakwah yang kita tangani. Pemilihan jenis cerita ini antara lain ditentukan oleh :
1. Tingkat usia pendengar.
2. Jumlah pendengar.
3. Tingkat heterogenitas pendengar.
4. Tujuan penyampaian materi.
5. Suasana acara.
6. Situasi dan kondisi pendengar.
Adapun pengelompokan cerita ini ditinjau dari beberapa sudut pandang, yang secara sederhana dapat dibedakan sebagai berikut :
1. Berdasarkan pelakunya.
a. fabel ( dunia binatang dan tumbuhan ).
b. dunia manusia
c. dunia benda mati
d. campuran / kombinasi
2. Berdasarkan kejadiannya.
a. cerita sejarah ( tarikh ).
b. Cerita fiksi ( rekaan ).
c. Cerita fiksi sejarah.
3. Berdasarkan sifat dan waktu penyajiannya.
a. cerita bersambung.
b. Cerita serial.
c. Cerita sisipan.
d. Cerita ilustrasi.
e. Cerita lepas.
4. Berdasarkan jumlah pendengar.
a. cerita privat.
(1) cerita pengantar tidur.
(2) Cerita lingkaran pribadi ( kelompok sangat kecil ).
b. cerita kelas.
(1) kelas kecil ( s.d 20 anak )
(2) kelas besar ( s.d 20 – 40 anak ).
c. cerita untuk forum terbuka.
5. Berdasarkan teknik penyajiannya.
a. direct story ( cerita lagsung / tanpa naskah ).
b. Story reading ( membaca cerita )
6. Berdasarkan pemanfaatan peraga.
a. bercerita dengan alat peraga.
b. Bercerita tanpa alat peraga.

Sekali lagi, pemilihan jenis cerita diatas sangat berpengaruh pada teknik penyajiannya. Karena setiap cerita mempunyai gaya, teknik dan pendekatan yang berbeda-beda, oleh karenanya pemahaman yang mendalam tentang jenis dan karakter pendengar juga sangat dibutuhkan. Untuk mencapai keberhasilan dalam bercerita, ada dua faktor pokok yang harus diperhatikan oleh setiap pendidik yang akan bercerita, yaitu :
1. Naskah / skenario atau setidaknya synopsis. ( kerangka cerita ).
a. dari sumber ceritayang telah ada.
(1) sumber bisa didapat dari buku cerita,komik, majalah.
(2) Mengubah naskah dari bahasa tulis ke bahasa lisan ( percakapan)
(3) Penyesuaian / modifikasi alur, setting dan bumbu cerita.
(4) Melatih naskah baru berulang-ulang dalam penyajian yang sebenarnya.
c. mengarang cerita sendiri.
Untuk mempermudah menemukan ide dasar dan alur cerita, ada beberapa hal yang mungkin dapat mambantu :
(1) Pilihlah setting awal.
Baik setting tempat, waktu maupun suasana.
(2) Tentukan tokoh utama dan tokoh antagonisnya
(3) Munculkan konflik.
Ada 4 macam konflik :
- Person against self ( dari diri sendiri ).
- Person against person ( diri sdr dengan orang lain ).
- Person against society ( diri sdr dengan masyarakat )
- Person against nature ( diri sdr dengan alam ).
(4) klimaks (puncak masalah ).
(5) Penyelesaian.
2. Teknik penyajian.
Bila faktor naskah “beres”, maka faktor kedua yang akan menentukan berhasil tidaknya seseorang dalam bercerita adalah faktor teknik penyajian. Bagaimanapun bagusnya naskah sebuah cerita tanpa didukung dengan teknik penyajian yang sempurna / baik, maka akan hambar / rusak juga, oleh karenanya unsur-unsur penyajian cerita harus dikombinasikan secara proposional. Unsur-unsur itu adalah
a. Total.
Artinya bersungguh - sungguh dengan mengerahkan segala kemampuan kita. Termasuk dalam pengertian totalitas di sini adalah ketulusan dan keikhlasan kita.
b. Satukan perhatian anak.
Ada beberapa cara misalnya : diajak bermain tepuk, bernyanyi , atau Tanya jawab sekilas, lalu buatlah kesepakatan dengan anak-anak, misalnya waktu mendengarkan cerita tidak boleh ramai sendiri, dsb.
c. Detail.
Maksudnya gambarkanlah secara terinci cerita kita, diantaranya :personifikasi tokoh-tokohnya, adegan-adegannya, dialog antar tokohnya, dsb.
d. Dramatisasi.
Artinya menggambarkan perbedaan perilaku antara tokoh utama dengan tokoh antagonos secara tajam. Inilah yang disebut dramatisasi ( menyangatkan). Pada adegan yang memang perlu diberi penekanan, tonjolkan dengan maksimal.
e. Ekspresif.
Maksudnya dalam bercerita harus penuh penghayatan. Cerita yang tidak ekspresif akan terasa hambar, monoton, dan membosankan. Oleh karena itu kita perlu memanfaatkan seluruh anggota tubuh kita, terutama mimik muka, tangan dan bahu, misalnya : membelalak, melirik, marah, menyeramkan, tertawa, dsb.
f. Ilustrasi suara.
Memberi ilustrasi cerita kita dengan suara-suara khusus mempunyai efek yang bagus bagio cerita kita. Ada dua macam :
(1) suara lazim: suara yang kita tirukan sebagaimana aslinya, misal : dor !( untuk suara tembakan), meong…(suara kucing),dsb.
(2) Suara tak lazim: suara yang kita ciptakan sendiri, misalnya : towengweng….(suara menghilang), suara angin, suara mantra yanga aneh-aneh,dsb.
g. Suspence dan humor.
Cerita yang menegangkan dan kaya akan humor biasanya lebih disukai anak-anak. Efek tegang bisa dibangun dengan memunculkan adegan-adegan penuh kejutan, suasana sunyi,dsb. Sedang efek humor bisa dibangun melalui dialog-dialog maupun gerakan yang lucu.
h. Frienship.
Maksudnya dalam bercerita ciptakan suasana akrab dan bersahabat dengan anak-anak. Halini bisa diusahakan dengan pengaturan tempat duduk,memberi kesempatan kepada anak-anak untuk berkomentar, tanya jawab dsb.
i. Perhatikan situasi dan kondisi pendengar.
Anak-anak yang tampaknya sudah cukup penat dan jenuh, sebaiknya cukup diberi cerita yang ringan yang penuh canda. Cerita serius yang sarat akan pesan sebaiknya diberikan pada anak-anak yang dalam kondisi fresh.
j. Happy ending.
Akhir dari cerita dimana sang tokoh utama mengalami kebahagiaan. Cerita yang berakhir dengan kesedihan dan kekalahan sang tokoh utama, akan menjadikan anak-anak kecewa. Kalau tokoh utamanya dikisahkan “terpaksa” meningggal dunia, maka gambarkanlah bahwa ia mati syahid atau khusnul khotimah.

MENYANYI
Menyanyi adalah bagian yang tak terpisahkan dari dunia anak-anak.Menyenandungkan lagu, apalagi yang berirama riang, sungguh merupakan kegiatan yang digandrunginya. Hal ini tidaklah mengherankan, karena lagu pada dasarnya adalah bentuk dari bahasa nada. Yaitu bentuk harmoni dari tinggi rendahnya suara. Pada insan-insan belia yang perbendaharaan bahasa masih cukup terbatas ini, bahasa nada justru lebih mudah mereka kunyah. Bahasa kata-kata membuat mereka dituntut mengernyitkan dahi dan bersusah payah untuk memahami maknanya. Sedang bahasa nada justru akan membawa mereka pada suasana : riang, syahdu, sedih,semangat,dsb, tanpa harus mereka mengerti apa isi kandungannya. Kita dapat saksikan bayi yang baru berusia beberapa bulan tergelak-gelak mendengar ayah bundanya menyanyikan lagu gembira. Saat lain iapun tertidur pulas setelah bundanya melantunkan lagu syahdu walaupun tanpa syair, semisal ningnong ning gung…Begitulah, jauh sebelum anak-anak mengenal bahasa kata,ia telah mengenal bahasa nada.
Ketika anak-anak beranjak lebih besar, mereka akan semakin akrab dengan lagu atau nyanyian. Asal melodinya tidak terlalu rumit, mereka akan dengan senang hati menyanyikannya.Mereka minta diajari menyanyi, menghafalkan syairnya, belajar melafalkan kata-kata yang terdapat pada syair lagu itu, sibuk bergaya ketika menyanyi, dsb.Semua itu adalah bagian dari dunia keceriaan masa kanak-kanak yang indah. Dalam kaitannya dengan hal ini, menjadi sangat dimengerti apabila para ulama tempo dulu menciptakan banyak lagu /tembang sebagai sarana dakwahnya. Lagu-lagu iru sampai sekarang masih sering kita dengarkan lewat menara-menara masjid dengan lantunan puji-pujiannya. Konon untuk menunjukkan kecintaannya pada rosulullah, para shahabat melantunkan sholawat badar untukmenyambut kedatangan Nabi Muhammad SAW dari perang badar yang dimenangkan kaum muslimin dengan gilang gemilang. Bukankah sholawat badar bukan satu bentuk dari nyanyian Demikian pula ketika nabi Muhammad SAW mengagumi lantunan suara Abu Musa Al Asy’ari membaca Al Qur’an,bukankah lantunan suara itu bentuk dari sebuah lagu.
Demikianlah menurut fitrohnya manusia memang menyukai keindahan, dalam soal suara, manusia pasti akan lebih menyukai nada-nada yang indah, mengandung harmoni, sehingga enak didengar daripada mendengar suara-suara yang cenderung sumbang, tak beraturan sehingga terasa tak nyaman di telinga. Bentuk harmoni yang indah itu kemudian diusahakan agar dapat diulang kembali, diperdengarkan lagi, ditirukan, bahkan disebarluaskan. Itulah yang kita kenal sebagai lagu atau nyanyian.

Fungsi dan makna nyanyian bagi pendidikan anak-anak.

Melihat kegemaran anak-anak menyanyi tentu dengan segenap tingkah lakunya, menerbitkan pertanyaan : apa sebenarnya fungsi dan makna lagu-lagu semacam itu bagi mereka ? sebagai seorang pendidik pertanyaan lumrah ini memang wajib kita cari jawabannya. Sebagai renungan di bawah ini secara garis besar akan kita sebutkan apa makna dan fungsi kegiatan bernyanyi bagi anak-anak, yaitu :
1. Sebagai pendidikan emosi
2. Pendidikan motorik
3. Pengembangan daya imajinasi
4. Peneguhan eksistensi diri
5. Pengembangan kemampuan berbahasa
6. Pengembangan daya intelektual
7. Pengembangan kekayaan rohani dan pendidikan nilai-nilai moral.

Mengajarkan lagu pada anak-anak.

Untuk dapat mengajarkan lagu pada anak-anak dengan baik, ustadz/ pengasuh anak-anak harus mempersiapkan dan memperhatikan 3 hal :
1. Kesiapan materi lagu.
2. kesiapan emosi
3. Ketepatan situasi.

Masih penasaran......baca selengkapnya